16 Agustus 2017

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Abdullah Said, Sang Perintis Pesantren Hidayatullah


Abdullah Said, Sang Perintis Pesantren Hidayatullah
Salah satu lokal gedung pendidikan Yayasan Pondok Pesatren Hidayatullah Berau, Kalimantan Timur. Cabang Hidayatullah pertama setelah Balikpapan. Dulu tempat ini merupakan semak belukar. (hidayatullah)

KLIKBALIKPAPAN.CO - Pondok Pesantren Hidayatullah berjumlah sekitar 250 pondok yang tersebar di seluruh Indonesia. Awalnya, Hidayatullah hanya sebuah pesantren yang didirikan sekitar tahun 1973 di Gunung Tembak, Kalimantan Timur. Seiring waktu, persis di kisaran tahun 2000, Hidayatullah bermetamorfosa menjadi organisasi kemasyarakatan yang berskala nasional.

Namun, siapakah pendirinya?

Adalah Abdullah Said. Sosok pendiri Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan yang kemudian menjadi organisasi massa Islam nasional bernama Hidayatullah. Kala itu, Ustadz Abdullah Said melihat kondisi Indonesia yang tak menentu, pergolakan gejolak politik dan ekonomi tidak mereda.

Sedangkan umat Islam banyak yang hidup dalam keterbelakangan. Ustadz Abdullah melihat hanya lewat lembaga pendidikan berbentuk pesantren sebuah masyarakat bisa diubah.

Dari catatan wikipedia, Abdullah Said lahir di sebuah desa yang bernama Lamatti Rilau,  desa di wilayah kecamatan Sinjai Utara, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Bertepatan dengan hari proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, hari Jum’at, 17 Agustus 1945, dengan nama lahir Muhsin Kahar.

Sejak masih dalam kandungan Abdullah Said sudah menjadi perbincangan keluarga dan masyarakat di kampungnya, sebab usia kandungan ibunya sudah mencapai dua tahun namun belum lahir juga.

Ustadz Abdullah Said berusaha keras memetik hikmah dari kondisi yang dialami Nabi Muhammad SAW sebelum menerima wahyu hingga turunnya lima surat pertama sebagai bahan pembinaan.

Setelah melalui pengkajian yang intens almarhum Abdullah Said akhirnya merumuskan suatu metode pembinaan sesuai turunnya lima surat pertama, yang kemudian dikenal Manhaj Sistematika Nuzulul Wahyu. Selanjutnya metode ini dijadikan sebagai manhaj da’wah Hidayatullah.

Pendidikan yang dienyam almarhum adalah Pendidikan Dasar Islam setingkat SD; pendidikan Ulama dan Zuama setingkat SMP; dan Kuliah Muballighin dan Muballighat setingkat SMA. Di semua jenjang pendidikan, beliau menekankan praktik langsung daripada berkutat teori di ruang kelas belajar, sehingga menghasilkan kader-kader yang siap diterjunkan kemana saja dan kapan saja.

Setelah belajar di pelbagai pondok di Jawa, Abdullah Said semakin meneguhkan hatinya untuk membuat pesantren yang mampu memberikan penerangan di masyarakat.

Ia pulang ke Sulawesi dan mengungkapkan niatnya mendirikan pesantren kepada sanak-saudaranya. Namun keluarganya tidak memberi respon positif. Karena keluarganya tidak percaya impiannya tersebut bisa direalisasikan. Mengingat usianya saat itu masih sangat muda, sekitar 20 tahun.

Karena tidak mendapat respon, Abdullah Said hijrah ke Kalimantan Timur, tepatnya di Gunung Tembak Balikpapan, untuk mendakwahkan Islam. Akhirnya pada tahun 1973, beliau bisa mendirikan Pesantren Hidayatullah yang menjadi cikal-bakal Hidayatullah di pelbagai daerah lain. Sebelumnya ia juga sempat aktif di organisasi Muhammadiyah dan Pelajar Islam Indonesia.

Ihwal manhaj dan metode da’wah ini, Abdullah Said mengatakan, “Karena ketidak jelasan manhaj, kadang-kadang da’wah Islam tidak lebih sekadar hura-hura.”

Hal yang tak kalah penting dan selalu ditekankan Abdullah said, letak keberhasilan ceramah atau da’wah bukan hanya ditentukan semata kemahiran beretorika. Perhatian pendengar dan audiens sangat ditentukan perilaku dan akhlak da’i. Orang akan memperhatikan budi pekerti dan tingkah laku sehari-hari. Beliau pernah mengatakan, ”Da’wah yang lebih didengar adalah da’wah yang didukung oleh pembuktian ayat, berupa peragaan dan praktik di lapangan pada diri dan keluarga.”

Cabang pertama Hidayatullah setelah Kampus Gunung Tembak berdiri adalah Berau. Berau adalah sebuah kabupaten seluas 34.127,47 km² di Kalimantan Timur. Cikal bakal berdirinya cabang Hidayatullah di Berau diawali pertama kali oleh Almarhum Ustadz Amin Bachrun, kader senior Hidayatullah gemblengan langsung Abdullah Said. 

Reporter : Faiqa/pelbagai sumber    Editor : Rudi



Comments

comments


Komentar: 0