21 September 2017

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Andai Muslim Rohingya bukan Saudara Kita


Andai Muslim Rohingya bukan Saudara Kita
Derita Muslim Rohingya. (abc)

“Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” [HR. Muslim]

Begitulah pesan baginda Nabi Muhammad. Beliau mengajarkan arti kasih sayang dan persaudaraan dengan perumpamaan yang begitu dekat, yaitu diri kita sendiri.

Coba perhatikan, saat tangan ingin meraih sesuatu yang tinggi maka kaki sejurus kemudian menjinjit, saat mata tersentuh debu maka spontan tangan mengucek-ngucek mata.

Saat jari terjepit pintu maka mulut langsung berteriak. Anggota tubuh satu dengan yang lain saling melengkapi, membantu dan merasakan apa-apa yang di terjadi dalam tubuh.

Sungguh, betapa indahnya perumpaan persaudaraan yang diajarkan baginda Nabi Muhammad. Sayangnya, tidak semua orang mengindahkan ajaran beliau. Terutama untuk saat ini, ketika Muslim Rohingya mengalami penindasan yang sangat keji oleh rezim tiran Myanmar dan kelompok Budha.

Keislaman yang mengakar di jiwa membuat mereka harus melarikan diri dari tanah Rohingya atau mereka akan disiksa hingga mati. Berita itu kini menyelimuti dunia informasi di Indonesia. Tak sedikit kaum Muslimin yang tersentuh sehingga membuat mereka marah, sedih dan melakukan pelbagai aksi menolong saudara Muslim di Rohingya.

Tapi di sisi lain, ada saja orang yang menganggap bahwa masalah muslim Rohingya adalah permasalahan lokal. Benarkah permasalahan lokal? Seandainya muslim Rohingya bukan saudara kita atas dasar kesamaan akidah, maka benarlah ia sebagai permasalahan lokal.

Bahkan, jika memang benar mereka bukan saudara kita maka tidak perlulah mengerahkan tenaga menggalang dana dan doa, mengutuk-ngutuk pelaku pembantaian dan menebar status marah, geram dan sedih di media sosial. Karena itu hanya akan buang-buang tenaga, pikiran, waktu dan kuota internet.

Jika mereka bukan saudara kita, maka rasa kasih sayang dan persaudaraan sesama muslim yang tumbuh di hati kita adalah rasa yang sempit dan terbatas jarak dan tempat.

Kenyataannya justru sebaliknya, banyak dalil yang mengatakan sesama muslim adalah saudara. Sampai-sampai, jika muslim satu menjelek-jelekkan muslim lainnya dari belakang maka ia seperti memakan bangkai saudaranya sendiri.

Di sisi lain, keimanan seorang muslim tidak sempurna sampai ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri. Itu sebagian kecil pesan nabi Mumahammad bahwasanya sesama muslim adalah saudara.

Persaudaraan dalam ajaran islam tidak kenal batas pada suku, status sosial, ras, batas wilayah atau kebangsaan. Persaudaraan tersebut  memberikan hikmah bahwa seluruh kaum muslimin butuh persatuan dan kepemimpinan yang satu dan umum yang berlandaskan akidah islam.

Karena persatuan dan kepemimpinan yang umum inilah yang akan memberikan keleluasaan dan jaminan kewarganegaraan yang jelas terutama bagi muslim minoritas dimanapun. Sebagaimana tubuh manusia yang saling bersatu, dipimpin peran akal dan di laksanakan beragam kerangka, maka seperti itu pulalah pentingnya kesatuan global kaum muslimin.

Penulis: Dewi Murni, Anggota Akademi Menulis Kreatif

Instagram: @dewi_murni1505

Reporter : Dicky Sera    Editor : Nikita Farmela



Comments

comments


Komentar: 0