18 November 2017

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Tak Hanya Ngaben di Bali, Kalimantan Juga Punya Tradisi Bakar Mayat


Tak Hanya Ngaben di Bali, Kalimantan Juga Punya Tradisi Bakar Mayat
Salah satu warisan adat yang masih dijaga. (bgs)

KLIKBALIKPAPAN.CO - Tradisi bakar mayat bukan cuma ada ada di Bali atau Cina. Suku Dayak di Kalimantan juga punya tradisi serupa yang bernama Tiwah.

Meski belum sepopuler Ngaben, tradisi Tiwah dapat ditemukan di kawasan Nasional Tanjung Puting dan Kalimantan Tengah yang kental dengan Suku Dayak.

Dihimpun dari pelbagai sumber, 15/11/2017, Tradisi Tiwah adalah prosesi mengantarkan roh leluhur sanak saudara yang telah meninggal dunia ke alam baka.

Nantinya, mayat ini akan dibakar seperti Ngaben yang ada di Bali. Umumnya, tradisi ini hanya diadakan jika ada salah satu ketua adat Suku Dayak yang meninggal.

Sebelum tradisi Tiwah, akan dilakukan lebih dulu tradisi Tantulak.

Dalam kepercayaan Kaharingan Suku Dayak, seseorang yang telah mati harus diantarkan lebih dulu menuju Bukit Malian.

Dari sana, sang arwah akan menanti untuk pergi ke Ranying Hattala Langit sampai keluarga yang masih hidup melakukan tradisi Tiwah.

Dalam prosesi ini, pembakaran tak hanya dilakukan kepada sang ketua adat saja, tapi juga jenazah lain yang telah dikubur.

Jadi, sejumlah jenazah yang telah dikubur akan digali lagi. Sejumlah jenazah baik yang masih baru atau yang telah jadi tulang pun akan dibakar bersamaan dengan sang ketua adat.

Tradisi ini pun sekaligus dilakukan untuk memutuskan status janda untuk istri yang ditinggalkan. Setelah tradisi ini dilakukan, sang janda diperbolehkan untuk kembali menikah atau tidak menikah. Sesuai dengan keputusan pribadi.

Hanya seperti Ngaben, tradisi Tiwah ini tidak apatdisaksikan setiap waktu. Semuanya kembali lagi, tergantung ada yang meninggal atau tidak.

Selain itu, dibutuhkan uang dan waktu yang tidak sedikit untuk meyelenggarakan tradisi Tiwah. Umumhya, Tiwah dilakukan nonstop selama beberapa hari hingga satu bulan.

Kalimantan begitu kaya akan budaya. Selain ada yang dibakar, dalam tradisi pemakaman ada pula jenazah yang didiamkan dulu di rumah dalam waktu lama. Bahkan lebih dari sepekan.

Denny Nestafa, pemuda Dayak Punan Kaltara, memaparkan, tradisi membiarkan jenazah di rumah dalam waktu lama masih berlangsung.

"Jenazah kakak saya dulu hampir dua bulan di rumah," kisahnya pada Klik, beberapa waktu lalu. Jenazah itu diletakan di peti mati, yang ditempatkan di ruang tamu.

Tujuan menahan jenazah lama di rumah untuk melepas kerinduan sanak family.

Selama itu ada upacara adat untuk melepas kepergian jenazah. Sanak famili, tetangga atau kerabat yang berduka biasanya membawa hasil bumi.

"Macem-macem. Sayur, buah dan lainnya. Nanti dimasak untuk acara adat," jelas pemuda Dayak, yang berasal dari pedalaman Sekatak, Kalimantan Utara.

Betapa kaya rayanya tradisi dan adat Nusantara...

 

Reporter : Hamdan    Editor : Akbar Barbara



Comments

comments


Komentar: 0