22 Agustus 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Serem, 90 Santri di Tiga Pesantren Tumbang Usai Divaksin Difteri


Serem, 90 Santri di Tiga Pesantren Tumbang Usai Divaksin Difteri
Santri yang menjadi korban setelah vaksin difteri dilarikan ke rumah sakit. (Koranmadura)

KLIKBALIKPAPAN.CO – Vaksin kembali membawa korban. Kali ini puluhan santri mendadak tumbang usai menerima vaksin difteri.

Bahkan, santri yang sakit massal setelah imunisasi difteri di Kabupaten Pamekasan, Pulau Madura, Jawa Timur, hingga 11 Februari 2018 malam, meluas ke tiga pesantren dari sebelumnya dua pesantren.

"Santri yang kembali dirawat dan dirujuk karena sakit. Mereka santri dari Pesantren Al-Husen, Desa Bangkes, Kecamatan Kadur," kata staf Humas Pemkab Pamekasan Naufal, dilansir Antara, kemarin, 12/2/2018.

Para santri dari Pesantren Al-Husen itu mengalami gejala yang sama seperti yang dialami santri Al-Falah Sumber Gayam dan santri Hidayatul Mubtadiin Kadur, yakni mual, muntah-muntah, demam tinggi, dan pingsan.

Mereka dirujuk ke Puskesmas Larangan, karena di Puskesmas Kadur sudah tidak muat, akibat banyak santri yang dirawat. "Satu di antara santri yang dirawat di Puskesmas Kadur juga dirujuk ke RSUD Pamekasan, karena kondisinya kian parah," ujar Nauval.

KLIK JUGA: Sabtu Divaksin Difteri, Selang Empat Hari Meninggal Dunia

Kepala Dinas Kesehatan Pemkab Pamekasan Ismail Bey sebelumnya merilis, jumlah santri yang mengalami sakit massal pascaimunisasi difteri yang digelar Sabtu, 10 Februari 2018 itu sebanyak 90 orang.

Jumlah itu belum termasuk pasien tambahan dari Pesantren Al-Husen, Desa Bangkes, Kecamatan Kadur, Pamekasan yang kemarin malam juga dirujuk ke Puskesmas Larangan.

Menurut dokter yang menangani santri sakit massal di Puskesmas Larangan, Pamekasan yakni dr Nanang Suyanto, saat ini kondisi puskesmas membeludak, karena ada pasien tambahan.

"Kami masih berupaya mencari bed tambahan untuk pasien, dan hingga malam ini pasien terus berdatangan," ujarnya.

Puskesmas Larangan satu dari tiga puskesmas yang disediakan Dinas Kesehatan Pemkab Pamekasan untuk merawat santri sakit massal pascaimunisasi difteri itu.

Dua puskesmas lainnya adalah Puskesmas Kadur dan Puskesmas Galis, serta Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Slamet Martodirdjo Pamekasan.

Kasus santri sakit massal di Kecamatan Kadur, Pamekasan pascaimunisasi difteri ini, meresahkan para orangtua santri, karena gejala yang dialami pasien tidak hanya mual, muntah, dan demam tinggi, akan tetapi juga pingsan.

Sebelumnya, Icha (10) tahun, bocah asal Karawang Jawa Barat meninggal dunia setelah menerima vaksin difteri. Padahal sebelumnya sehat bugar.

Saat mendengar kabar adanya korban susulan dari vaksin difteri di pelbagai daerah, Noura, ibu kandung korban, mencurahkan uneg-unegnya.  

Ia menyesalkan pemerintah tidak bertanggung jawab terhadap anaknya. “Saya trauma dengar kata vaksin. Masih terbayang dengan jelas waktu anak saya kesakitan sesaat sebelum meregang nyawa,” ujarnya pada Klik, Selasa, 13/2/2013.

Noura mengaku trauma dan mengingatkan agar orangtua harus kritis sebelum vaksin. “Buat saya vaksin tak lebih dari racun mematikan yang sengaja mereka suntikan,” kesalnya.

Ike Angeline, Aktivis Kemanusiaan yang konsen terhadap korban vaksin, menegaskan pemerintah harus bertanggung jawab terhadap para korban. Selama ini vaksin selalu dicitrakan aman.

“Faktanya, dalam catatan kami yang terdata sudah ratusan korban. Belum lagi kalau ditambah korban vaksin MR. Vaksin difteri dan MR pun sampai sekarang tidak ada yang punya sertifikasi halal,” tegasnya, dihubungi Klik, 13/2/2018.

Ia mendesak pemerintah melakukan evakuasi terhadap program vaksin. Termasuk melakukan sosialisasi efek samping vaksin dan KIPI atau kejadian ikutan paska imunisasi.

“Jangan bagusnya saja dimunculkan di media, efek samping dan kandungannya tidak. Sedangkan kalau ada korban tidak pernah diakui. Sertifikasi halal juga belum ada. Di luar negeri jauh lebih jujur dan terbuka. Orangtua perlu kritis terhadap keamanan dan kehalalan vaksin,” pesannya.

KLIK JUGA: Lima Poin Masalah Program Vaksin

Reporter : Desi Kurnia/ Ant    Editor : Klik Balikpapan



Comments

comments


Komentar: 0