22 Agustus 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Polisi Dalami Kasus Patahnya Pipa Pertamina di Balikpapan


Polisi Dalami Kasus Patahnya Pipa Pertamina di Balikpapan
Petugas membersihkan lokasi tumpahan minyak. (Int)

KLIKBAKIKPAPAN.CO - Potongan terakhir pipa Pertamina berhasil diangkat ke atas Kapal Barge Crane Base Sea Haven 2, kemarin, 22/4/2018. 

Pipa itu langsung diperiksa tim penyidik, Inafis Polda Kaltim, serta tim Pertamina Refinery Unit (RU) V.

Direktur Dirkrimsus Polda Kaltim Komisaris Besar Polisi Yustan Alpiani, polisi akan melakukan rekonstruksi berdasarkan seluruh data yang diperoleh pihaknya.

Pipa-pipa tersebut diangkat sebagai barang bukti atas kejadian tumpahan minyak mentah sejak pukul 03.00 dinihari dan kemudian kebakaran minyak di perairan Teluk Balikpapan pukul 10.30-11.30 WITA pada 31 Maret 2018 lalu.

Sebanyak lima pemancing tewas dalam kejadian kebakaran dan jenazah mereka ditemukan dalam pencarian hingga empat hari. Satu ekor pesut atau Orcaella brevirostris betina usia 4 tahun juga ditemukan mati di terdampar di pantai.

Dalam proses pemotongan, sebanyak 19 penyelam secara bergantian melakukan pemotongan pipa, kemudian memasangkan strap nilon melingkari pipa dan dihubungkan dengan kabel untuk diangkat crane.

Para penyelam bekerja dua tim, terdiri dari delapan orang dan tiga orang siaga. Setiap tim bekerja bergantian selama 45 menit untuk memotong pipa dan memasangkan strap nilon tersebut.

Region Manager Communication & CSR Kalimantan, Yudi Nugraha, mengatakan, Pertamina berupaya membantu kepolisian untuk melakukan investigasi, salah satunya melakukan pengangkatan pipa dan menyediakan lokasi pemeriksaan pipa di darat.

Pipa Pertamina yang putus memiliki ketebalan pipa 12.7 mm terbuat dari bahan pipa Carbon steel pipe API 5L Grade X42. Kekuatan pipa terhadap tekanan diukur dari safe Maximum Allowable Operating Pressure (MAOP),1061.42 Psig, sedangkan, operating pressure yang terjadi pada pipa hanya mencapai 170.67 Psig.

Menurutnya terakhir kali visual inspection tanggal 10 Desember 2017 oleh diver untuk check kondisi external pipa, cathodic protection dan spot thickness.

"Inspeksi untuk sertifikasi terakhir dilakukan 25 Oktober 2016, sertifikat kelayakan penggunaan peralatan yang dikekuarkan oleh Dirjen Migas masih berlaku hingga 26 Oktober 2019. Serifikasi dilakukan 3 tahun sekali sesuai SKPP Migas," ujarnya.

Total panjang pipa yang diangkat adalah 49 meter. Setelah sebelumnya Pertamina mengangkat dua potongan pipa yang putus yang diduga akibat faktor eksternal.

Pengangkatan potongan pipa terakhir berjalan lancar meski sempat tertunda karena faktor cuaca dan teknis. Pipa pertama dengan cutting point E3 (line E1-E3) memiliki ukuran 7 meter dengan berat 3,5 ton berhasil diangkat pada Kamis (19/4) pukul 16.05 wita.

Pada Jumat (20/4), pukul 09.30 wita, pipa kedua dengan cutting point B3 (line D-B3) memiliki ukuran 18 meter dengan berat 9 ton berhasil diangkat. Dan terakhir pipa ketiga 24 meter dengan berat 12 ton terakhir berada di cutting point A3 (line B3-A3) terangkat pada Minggu (22/4), petang.

Kepala Pusat Hidrografi dan Oseanografi TNI Angkatan Laut (Kapushidrosal) Laksamana Muda TNI Harjo Susmoro mengatakan, pipa di Teluk Balikpapan kemungkinan terhantam benda keras setelah Pushidrosal melakukan pencitraan dasar laut di lokasi, tak lama sesudah kejadian.

"Tidak mungkin pipa patah begitu saja. Kalau melihat hasil patahan pipa dan bekas garukan, pasti ada benda keras yang menyebabkan. Asumsi kami, benda keras itu adalah jangkar," tutur Harjo dalam keterangan tertulisnya, Senin, 23/4/2018.

Kasus tumpahan minyak ini sempat menyebar hingga kawasan seluas 12,7 ribu hektare, mencemari hutan mangrove dan kawasan pemukiman masyarakat di Kampung Baru di Balikpapan dan Penajam di Penajam Paser Utara.

Ribuan orang di kedua tempat mengalami sesak napas, mual, dan muntah karena tidak kuat mencium bau menyengat minyak.

Reporter : Nina Karmila/ Gtr    Editor : Klik Balikpapan



Comments

comments


Komentar: 0