22 Agustus 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Program Vaksin Rubella di India Ditolak, di Jawa Banyak Telan Korban


Program Vaksin Rubella di India Ditolak, di Jawa Banyak Telan Korban
Program vaksin MR di India Ditolak. (Istri)

KLIKBALIKPAPAN.CO - Pemerintah kembali menggelar program vaksin MR atau campak dan rubella. Kali ini untuk wilayah Luar Jawa, dimulai Agustus-September 2018.

Sejak dimulai di Jawa tahun lalu, program ini mendapat tantangan keras dari pelbagai pihak.

Mulai MUI, ICMI, pegiat halal, Ulama, sampai masyarakat luas. Alasan penolakan lantaran masalah kehalalan dan efek samping yang justru membahayakan jiwa.

Dalam catatan Klik, sejak beberapa tahun lalu, PT Biofarma menjajaki kerja sama produksi vaksin dengan India seiring rencana pengadaan vaksin measles rubella oleh Kementerian Kesehatan. Nilai pengadaan ditaksir sekitar Rp 2,7 triliun.

Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan Elizabeth Jane Soepardi mengatakan, instansinya mendapat dana hibah dari lembaga vaksin asal India, Gavi, The Vaccine Alliance.

Namun, saat seminar terkait yang dihelat tahun lalu, justru terungkap program vaksin ini gagal dilakukan di India. Padahal vaksin ini berasal dari India.

Masyarakat India menolak program ini, terutama kalangan menengah ke atas. Mereka takut efek samping yang membahayakan hingga menghilangkan nyawa.

Tayangan seminar itu sempat menjadi viral tahun lalu. Saat gaung vaksin MR di luar Jawa bakal dilakukan bulan depan, tayangan ini menjadi viral lagi. Salah satu narasumber berasal dari Kemenkes.

Dalam tayangan yang dilihat Klik, Sabtu, 14/7/2018, tampak narasumber itu mengakui kegagalan program vaksin MR di India. Tayangan slide juga menyebut alasan gagal lantaran ditolak. Padahal India tidak mengutamakan produk halal seperti di Indonesia.

Dalam program vaksin MR di Jawa tahun lalu, juga mengakibatkan Kejadian Ikutan Paska Imunisasi atau KIPI.

Para korban usai vaksin itu beragam dari mulai yang ringan seperti pusing, ruam, muntah. Ada juga yang diopname, lumpuh sampai meninggal dunia. Sayangnya pihak terkait selalu lepas tangan.

Korban berasal dari beberapa daerah di Jawa, mulai Jakarta, Blitar, Lumajang dan lainnya. Data tersebut dihimpun para aktivis kemanusiaan dari pelbagai sumber, yang mendesak tanggung jawab pemerintah terhadap korban setelah vaksin.

Di Blitar saja ada 315 Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi Measles dan Rubella atau vaksin MR dilaporkan ke Dinkes Kabupaten Blitar.

KIPI atau efek samping paska imunisasi MR terdiri 279 anak mengalami gejala ringan, selanjutnya 36 anak harus mendapatkan perawatan intensif di puskesmas atau rumah sakit. Data ini belum mencakup kasus per daerah.

Menyoal korban cedera vaksin, aktivis kemanusiaan, Ike, meminta pemerintah harus bertanggung jawab terhadap para korban.

"Beberapa korban yang saya datangi dibuat bingung dengan program vaksin. Mereka diwajibkan memvaksinasi tapi saat anaknya jadi korban, tidak ada yang bertanggung jawab," sesalnya.

Ia mengingatkan agar para orangtua berhati-hati untuk memvaksinasi anaknya. Pastikan keamanan vaksin dan status kehalalannya. "Jangan korbankan anak kita demi keuntungan segelintir pihak," ingatnya.

Sebelumnya, Wasekjen MUI, KH Tengku Zulkarnain juga menegaskan vaksin ini belum halal. Ia menyesalkan pembohongan publik yang dilakukan Kemenkes.

"Kementerian Kesehatan berbohong masalah kehalalan vaksin. Saya pun sudah geram akan hal ini," tegasnya, Sabtu, 14/7/2018.

KH Tengku, melanjutkan, "Padahal vaksinnya sama sekali belum diperiksa MUI. Bahkan Kemenkes tidak pernah mau memberi sampel untuk diperiksa. Dalam hal ini perlu diviralkan kebohongan Kemenkes agar anak umat Islam tidak dimasukkan vaksin haram. Allahu Akbar," ujar KH Tengku.

Reporter : Dicky Sera    Editor : Klik Balikpapan



Comments

comments


Komentar: 0