14 November 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Ini Penjelasan MUI tentang Fatwa Vaksin MR Haram tapi Boleh


Ini Penjelasan MUI tentang Fatwa Vaksin MR Haram tapi Boleh
Gedung Majelis Ulama Indonesia. (Gi)

KLIKBALIKPAPAN.CO - Majelis Ulama Indonesia melalui Sidang Pleno yang dilakukan Senin, 20/8/2018 malam, mengeluarkan keputusan tentang vaksin MR atau Rubella.

MUI mengeluarkan Fatwa MUI Nomor 33 Tahun 2018 tentang Penggunaan Vaksin MR dari SII untuk Imunisasi. Fatwa ini menetapkan hukum vaksin MR adalah haram.

Sesuai penelitian Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetik, ada dua kandungan yang menyebabkan vaksin MR dinyatakan haram.

KLIK JUGA: Fatwa MUI:Vaksin MR Haram karena Mengandung Babi dan Organ Manusia

Pertama memiliki kandungan kulit dan pankreas babi, kedua organ tubuh manusia yang disebut human deploid cell atau sel janin yang diaborsi.

Namun, penggunaan vaksin tersebut  saat ini mubah atau dibolehkan karena ada kondisi keterpaksaan belum ditemukan vaksin pengganti yang halal dan suci.

Menyoal haram tapi dibolehkan, Wasekjen MUI KH Tengku Zulkarnain, menjelaskan mubah itu boleh digunakan.

"Tapi bukan Sunah, bukan juga wajib. Jadi siapa yang mau silakan boleh, yang menolak juga silakan," jelas Kiai Tengku, saat berkomunikasi dengan KLIK, Selasa, 22/8/2018 pagi.

Kiai Tengku menekankan lagi, "Mubah bukan Sunah dan bukan wajib. Boleh divaksin, boleh tidak. Itu namanya lil hajah," jelasnya.

KLIK JUGA: Video Petaka Vaksin MR dalam Catatan Media

MUI juga mengakui vaksin MR produksi India ini, di negaranya ditolak. Begitu pula bagi sebagian besar umat Muslim Indonesia. Apalagi melihat kandungannya yang najis dan haram.

Kiai juga mengetahui banyaknya keluhan masyarakat terhadap keamanan vaksin MR yang menelan korban kejadian ikutan paska imunisasi atau KIPI. Kebolehan vaksin yang mengandung bahan haram ini tidak mengikat, masih bisa diperbaiki bila lebih banyak mudharatnya.

Diberitakan sebelumnya, Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia menggelar rapat terkait penggunaan vaksin MR dari Serum Institute of India untuk imunisasi.

"Penggunaan vaksin yang memanfaatkan unsur babi dan turunannya hukumnya haram. Dalam a produksinya menggunakan bahan yang berasal dari babi," tegas Ketua Komisi Fatwa MUI Hasanuddin, Senin, 20/8/2018 malam.

Ia menegaskan, pemerintah wajib menjamin ketersediaan vaksin halal untuk kepentingan imunisasi bagi masyarakat. Produsen vaksin wajib mengupayakan produksi vaksin yang halal dan mensertifikasi halal produk vaksin sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Menurut Hasanuddin, bila nantinya ditemukan vaksin MR halal maka vaksin MR dari Serum Institute of India tak boleh digunakan lagi. Karena hal itu, MUI meminta pihak pemerintah menjamin ketersediaan vaksin MR yang halal.

KLIK JUGA: Vaksin MR Makan Korban Lagi, Ada yang Lumpuh sampai Wafat

Reporter : Agung    Editor : KLIK Group



Comments

comments


Komentar: 0