14 November 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Antisipasi Krismon Global, Asumsi Rupiah di RAPBN 2019 Diubah


Antisipasi Krismon Global, Asumsi Rupiah di RAPBN 2019 Diubah
Dolar Amerika. (Gi)

KLIKBALIKPAPAN.CO - Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat, memanggil pemerintah, Bank Indonesia, dan Badan Pusat Statistik untuk meminta penjelasan ihwal asumsi makro dalam RAPBN 2019, Senin, 10/9/2018.

Salah satu topik pembahasan, adalah asumsi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang dipatok di level Rp 14.400 per dolar AS. Dalam rapat kerja itu, ada kemungkinan asumsi nilai tukar bakal diubah dari yang sudah ditetapkan.

Berdasar data Kementerian Keuangan, rata-rata nilai tukar rupiah sejak awal tahun hingga 7 September 2018 mencapai Rp 13.977/US$. Sedangkan asumsi makro nilai tukar yang ditetapkan dalam APBN 2018 ada di level Rp 13.400/US$.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pun merasa asumsi nilai tukar tahun depan perlu ditilik lebih jauh, terutama menghadapi dinamika ketidakpastian ekonomi global yang diperkirakan masih berlangsung hingga tahun depan.

"Kami memasukkan Rp 14.400/US$, meski sampai September rata-rata kurs masih di bawah Rp 14.000/US$. Kami lihat trend, bisa lebih tinggi. Ini yang perlu dibahas," tegas Sri Mulyani.

Beberapa hal yang menjadi pertimbangan pemerintah, lanjut Sri, pertama soal normalisasi kebijakan moneter di Amerika Serikat yang berasal dari kenaikan bunga bank sentral AS, dan rencana untuk mengurangi likuiditas yang selama ini disuntikkan ke pasar keuangan global.

Hal ini, bakal memicu pembalikan arus modal asing dari negara-negara berkembang, tak terkecuali Indonesia. Derasnya aliran modal yang kembali ke AS, membuat greenback mendapat suntikan tenaga untuk menguat.

Seretnya likuiditas seiring normalisasi kebijakan bank sentral AS atau The Federal Reservepada tahun ini diklaim menjadi biang kerok defisit transaksi berjalan atau current account deficit/CAD.

"Neraca pembayaran kita alami defisit di current account. Dua tahun lalu kita bisa dapatkan capital inflow US$ 29 billion, hampir dua kali lipat. Defisit current account masih bisa dibiayai capital inflow," ujar Sri Mulyani.

"Namun di 2018, dinamika berubah. Capital inflow tidak sekuat di 2016 - 2017. Ini yang harus diwaspadai terkait sentimen dari psikologi, policy perdagangan AS vs mitra dagang, dan kebijakan moneter AS," tegasnya.

Berdasarkan data Bank Indonesia, arus masuk investasi dalam bentuk portofoli sepanjang semester I-2018 tercatat minus 1,1%. Padahal sepanjang tahun lalu, pertumbuhan investasi portofolio mencapai 20,6%.

Kedua, risiko perang dagang yang asih belum jelas. Pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping disebut menjadi kunci, apakah ketidakpastian dari perang dagang bisa mengakhiri ketidakpastian.

Kondisi ini timbulkan dinamika pada 2018 yang tentu memberikan pengaruh risiko terhadap outlook di 2018 dan diperkirakan akan terus terjadi di 2019," kata Sri Mulyani

Kalangan anggota parlemen, sependapat. Mereka menginginkan penetapan asumsi nilai tukar yang dibahas di komisi benar-benar disusun sesuai dengan realitanya, sebelum di bawa ke tingkat selanjutnya.

“Kami berharap pemerintah melakukan perubahan asumsi karena belum ada tanda-tanda baik," ujar Anggota Komisi XI Fraksi Nasdem Achmad Hatari.

Selain Nasdem, fraksi Gerindra juga meminta bendahara negara mengubah asumsi nilai tukar. "Saya tak ingin keputusan asumsi makro ini kita rama-ramai, mohon maaf hisap jempol saja. Jangan sampai kita dua jam bicara angka, kita hisap jempol," kata Anggota Komisi XI Fraksi Gerindra Harry P.

Sebelumnya, sejumlah negara tumbang menghadapi krisis moneter global, seperti Zimbabwe, Turki, Venezuela, Argentina, dan beberapa negara lain.

Reporter : Niken/NBC     Editor : KLIK Group



Comments

comments


Komentar: 0