11 Desember 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

KPAI: Tenaga Kesehatan Jangan Tutupi Kasus KIPI atau Korban Vaksin


KPAI: Tenaga Kesehatan Jangan Tutupi Kasus KIPI atau Korban Vaksin
Orangtua korban KIPI saat audensi dengan MUI Pusat. (Ist)

KLIKBALIKPAPAN.CO - Komisi Perlindungan Anak Indonesia menemukan adanya dugaan kasus KIPI atau Kejadian Ikutan Paska Imunisasi.

"Adanya dugaan kasus KIPI pada kegiatan imunisasi adalah hal wajar. Yang tidak wajar adalah mengabaikan kejadian ini dan menutup seolah-olah berjalan baik dan lancar," ujar Komisioner KPAI Bidang Kesehatan dan NAPZA Sitti Hikmawatty, dilansir Liputan6, belum lama ini.

AV yang baru berusia 1 tahun 4 bulan, pada tanggal 30 Mei lalu mendapat suntikan vaksin MR. Namun, sehari kemudian, secara berangsur-angsur AV mengalami kelumpuhan pada bagian kaki dan terus menjalar.

"Sempat masuk di ruang PICU (Pediatric Intensive Care Unit) dan mendapat perawatan intensif, sekarang keadaannya sudah mulai ada respon pada kedua tungkai kaki jika dilakukan stimulasi," ujar Sitti.

Ia mengatakan, keluarga pasien melaporkan hal tersebut saat pasien masih berada di ruang PICU (Pediatric Intensive Care Unit). Namun, ketika KPAI membesuknya, pasien baru sehari dipindahkan ke ruang rawat anak.

Dalam kunjungannya pada Selasa, keluarga pasien cukup kooperatif. Namun, masih ada trauma terhadap pengabaian yang dilakukan oleh petugas yang saat itu menangani.

Sitti mengatakan bahwa pihak KPAI belum mendapatkan jawaban resmi dari pihak rumah sakit mengenai dugaan KIPI tersebut.

"Tadi pihak RS belum mau bicara maka KPAI akan bersurat memanggil direktur RS," ujarnya.

Terpisah, Aktivis Kemanusiaan Relawan KIPI, Angeline Rike pada KLIK Kamis, 19/9/2018 malam, mengatakan selama ini kasus korban vaksin banyak ditutupi. Bahkan ada orangtua korban yang dilarang bicara pada media.

"Pemberitaan selama ini tidak fair. Orangtua korban terduga KIPI seakan dipaksa ikhlas, korban rubella di-blow up tapi seolah hanya untuk menakuti masyarakat agar mengejar target cakupan vaksin," sesalnya.

Ia menekankan, "Padahal setelah divaksin kenyataannya banyak korban terduga KIPI berjatuhan, tapi seakan-akan semua dipukul rata koinsidens atau kebetulan, mereka sakit dan meninggal bukan karena vaksinnya. Bahkan banyak korban yang tidak dikunjungi oleh Dinkes dan pokja KIPI namun tiba-tiba mereka mendapat diagnosis bahwa anak meninggal/sakit bukan karena vaksinnya. Kata mereka membuktikan sesuatu harus ilmiah, namun mereka sendiri yang tidak ilmiah," kesal wanita yang biasa disapa Ike ini.

Ia sangat prihatin dengan korban KIPI yang tak pernah diakui. "Kasus KIPI ditutup-tutupi, tapi giliran vaksin memaksa. Kalau ada yang jadi korban lepas tangan. Siapa yang mau menyerahkan anaknya divaksin jika tata laksana seperti ini," ujarnya.

Pihaknya pelbagai korban yang sakit, opname sampai meninggal dunia setelah diberi vaksin sejak sebelum 2017 dari vaksin difteri sampai MR.

Di antara kasus korban setelah vaksin, yaitu:

Sebelum 2017:
- Opname = 2 (DPT=1, Campak=1)
- Meninggal = 12 (Polio= 1, pentabio= 4, campak= 2, DPT=3, BCG=2)
- Lumpuh otot wajah = 1
- Lumpuh = 8 (Polio=1, anti tetanus=1, campak=2, DPT=3, pentabio=1)
- Kemunduran perkembangan = 3 (MR=2, HIB=1).

JUNI 2017-NOVEMBER 2017:
- Opname = 15 (MR)
- Meninggal = 16 (MR=12, Polio =1, BCG=2, DPT=1)
- Lumpuh = 8 (MR=7, DPT=1)

NOVEMBER 2017 - 25 AGUSTUS 2018 :
- Opname = 301 (MR=9, DPT=291, Pentabio polio =1)
- Lumpuh = 2 (MR)
- Meninggal = 28 (TT=1, Pentabio=2, DPT=14, tidak tahu=2, polio, pentabio=3, MR=6).

26 AGUSTUS 2018 - sekarang :
- Opname = 12 (MR=11, Difteri=1)
- Meninggal = 3 (MR)
- Lumpuh = 3 (MR).

Kasus KIPI ini, sambung Ike, belum termasuk data lain yang tidak tercatat. "Di luar pendataan kami pasti banyak lagi seperti fenomena gunung es. Selama pelaksanaan tidak dievaluasi, kandungan vaksin tak diuji lagi, maka sangat sulit mencapai target."

Apalagi, lanjut Ike, "Kebanyakan korban terdiri dari orangtua provaksin. Setelah jadi korban mereka menjadi trauma," sesalnya.

KLIK JUGA: Ratusan Diopname dan 56 Wafat Setelah Divaksin

 

Reporter : Dicky Sera    Editor : KLIK Group



Comments

comments


Komentar: 0