13 November 2018

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Sama-sama Mengandung Babi: Obat Ditarik, Vaksin Dipaksakan


Sama-sama Mengandung Babi: Obat Ditarik, Vaksin Dipaksakan
Ilustrasi. (Gi)

KLIKBALIKPAPAN.CO - Warga Balikpapan merasa janggal dengan kebijakan vaksin massal yang digelar pemerintah.

Alasannya, ada standar ganda yang diterapkan dalam produk, obat dan vaksin. Hal itu dipaparkan Windi Ratna, warga Klandasan Ulu, Balikpapan, Minggu, 14/10/2018.

Menurutnya, masyarakat sering heboh bila ada restoran atau outlet makanan terkenal yang tidak memiliki Sertifikasi Halal MUI.

"Dulu kan sering restoran tertentu gak punya sertifikat halal hebohnya bukan main. Sampai ada seruan boikot. Obat mengandung babi ditarik dari peredaran, giliran vaksin mengandung babi dipaksakan. Ada apa ini?" tanyanya.

Ia mengaku anaknya tidak diizinkan diberi vaksin MR meski vaksin lain tetap diberikan. Alasannya vaksin itu mengandung babi dan organ tubuh manusia.

"MUI kan jelas. Bukan lagi mengandung unsur babi, tapi juga organ tubuh manusia. Mau dibolehkan juga tetep aja mengerikan bagi saya," ujarnya.

Ia mengatakan sangat janggal vaksin MR terus dipaksa ke masyarakat. Apalagi sampai diperpanjang bulan Oktober. "Ada apa dengan vaksin. Saya jadi curiga," tuturnya.

Segendang sepenarian, Wati warga Gunung Samarinda, merasa heran dengan vaksin MR. Ia bilang agama Islam sudah jelas melarang yang haram.

"Tapi dalam vaksin MR dibikin mubah lalu dipaksa ke sekolah. Seolah darurat. Saya cek langsung ke RSUD Kanujoso, ke RS Siloam dan RS Pertamina tidak ada pasien rubella. Darurat apanya," sesalnya.

Ia juga menyesalkan institusi pendidikan yang tak bisa tegas terhadap program ini. Katanya, tak ada hubungan antara sekolah dan kesehatan.

"Ngapain juga anak-anak di sekolah divaksin. Kalau mau ya ke puskesmas saja. Yang gak mau jangan dipaksa," tegasnya.

Reporter : Deni Nuswantara    Editor : KLIK Group



Comments

comments


Komentar: 0