25 Mei 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Wakil Ketua DPRD: Sistem Zonasi Perlu Terapkan Kearifan Lokal


Wakil Ketua DPRD: Sistem Zonasi Perlu Terapkan Kearifan Lokal
Wakil Ketua DPRD Balikpapan, Tohari Aziz.

KLIKBALIKPAPAN.CO – Penerimaan Peserta Didik Baru atau PPDB tahun ajaran 2018 diwarnai polemik. Warga Balikpapan banyak yang memprotes kebijakan itu akibat anaknya tidak diterima di sekolah negeri.

Penerapan Sistem Zonasi 90 persen sesuai Peraturan Menteri Pendidikkan dan Kebudayaan Nomor 17 Tahun 2017 sejak awal ditentang DPRD Balikpapan lantaran akan menimbulkan masalah baru.

Terlebih hingga kini Dinas Pendidikkan Balikpapan belum sekalipun mendiskusikan dengan DPRD terkait penerapan Sistem Zonasi yang mulai diberlakukan tahun ini.

“Sistem Zonasi harusnya kan dibahas bersama dengan dewan untuk menentukan zonasi ini. Tapi sampai saat ini belum ada,” ujar Wakil Ketua DPRD Balikpapan, Tohari Azis.

Ia merasa heran karena penerapan Zonasi di Balikpapan tidak melibatkan diskusi dengan Dewan. “DPRD kan perwakilan masyarakat, sudah kah ini dibahas dengan DPRD. Saya pribadi tidak pernah diajak membahas tentang itu. Saya tidak tahu kalau teman-teman dewan lain,” ujarnya.

Tohari menyarankan agar penerapan Sistem Zonasi harus mempertimbangkan kearifan lokal dan karakteristik masyarakat masing-masing daerah setempat. “Ini kan masalahnya daerah beda, Balikpapan dengan Penajam, dibanding dengan di Jawa Timur, Jawa Tengah ya berbeda-beda karakteristiknya. Kalau beda jangan disamakan lah,” ingatnya.

Pihaknya mengaku mendapat banyak keluhan ihwal kontroversi sistem ini. “Sampai hari ini pun saya belum pernah diajak ngobrol, saya ini mewakili Balikpapan Selatan, banyak keluhan, mereka gitu gak ditampung, seperti ini persoalannya,”

Ia berujar, sesuai Undang-undang setiap warga dijamin mendapat pendidikkan yang sama yakni 9 tahun wajib belajar.

“Kita kembalikan ke UU bahwasanya wajib belajar 9 tahun itu dijamin UU, masyarakat punya hak untuk sekolah, itu harus dilaksanakan,” ingatnya.

Reporter : Deni Nuswantara    Editor : Kahar



Comments

comments


Komentar: 0