25 Maret 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Balikpapan Terancam Rapuh


Balikpapan Terancam Rapuh
Wahyullah Bandung. (dok)

KLIKBALIKPAPAN.CO - Pesatnya kemajuan Balikpapan masih menyisakan sejumlah masalah seperti umumnya kota metropolis. Bahkan, masalah itu berpotensi mengancam rapuhnya kota.

Kerapuhan, antara lain berbentuk tingginya kesenjangan sosial, perbedaan kondisi antara data resmi dengan kondisi ril lapangan, berkurangnya kebutuhan mendasar masyarakat.

Hal itu diungkapkan Ketua Ikatan Arsitek Indonesia Balikpapan 2011-2014, Waliyullah Bandung.

Pria yang biasa disapa Ula, itu, menilai perkembangan Balikpapan yang sangat pesat menjadikan kota ini sejajar dengan kota-kota metropolis lain di Indonesia. Tapi memiliki bom waktu yang kelak menjadi ancaman serius. 

"Jika tidak disikapi dengan regulasi yang tepat, maka terancam rapuh. Bahkan sudah rapuh," bebernya.

Penilaian Ula, didasari observasi mandiri yang dilakukannya di lapangan.  Ia berpendapat pembangunan di jalan-jalan protokol di tengah kota seperti Jalan Sudirman, Jalan Ahmad Yani patut diapresiasi.

"Tapi hanya beberapa blok di sekitarnya banyak warga yang masih kekurangan," ungkapnya. Bahkan, lanjut Ula, untuk menutupi kebutuhan dasar pun masih kesulitan.

Fakta itu, menurut Ula, umum ditemui di beberapa lokasi pemukiman padat penduduk yang berdekatan dengan bangunan menjulang tinggi. "Di luar tampak pembangunan menonjol, tapi di belakang itu banyak terjadi gap-gap sosial," ungkapnya.

Ula menekankan, "Masalah makin besar saat  tumbangnya industri migas dan batu bara yang menyebabkan banyaknya warga yang kehilangan pekerjaan."

Menurutnya, kecepatan perkembangan kota tidak diiringi dengan percepatan infrastruktur. Dicontohkan, dari segi kebutuhan dasar pendidikan, Balikpapan masih kekurangan sekolah negeri.

Ruang kegiatan belajar saat ini tidak seimbang dengan kebutuhan. Hal itu diperparah dengan adanya penerapan sistem zonasi.

Selain itu, Balikpapan masih minim kanal besar untuk menangani banjir, minimnya ruang terbuka hijau, sarana hiburan masyakat, bendungan pengendali air, fasilitas olah raga, dan master plan pembangunan SDM.

"Pembangunan itu bisa dilakukan dengan kerjasama swasta dengan memancing investor. Tinggal bagaimana membuat regulasi yang memudahkan investor tapi berpihak juga untuk masyarakat," tuturnya.

Jika hal-hal demikian belum diwujudkan, ia khawatir adanya ancaman lain berupa potensi ledakan demografi dan tingginya arus urbanisasi. Sehingga antara kebutuhan dasar masyarakat dengan sarana yang tersedia makin tidak sebanding.

"Penduduk Balikpapan masih di bawah 1 juta. Bila sudah di atas 1 juta dan kondisi kota masih seperti ini, bisa bahaya. Rapuh sekali," tandas Ula. Ia khawatir pada akhirnya ancaman berupa kriminalitas menjadi nyata.

Semakin banyak penduduk, semakin besar kebutuhan kota dan lapangan kerja. "Jika tidak imbang, ancamannya adalah tingginya angka kriminalitas," ingatnya.

Saat ini saja, sambung Ula, ancaman itu sudah mulai terlihat. Dari tingginya angka pengguna narkoba, kriminalitas, dan masalah sosial lain.

"Pemkot dan DPRD harus inovatif membuat regulasi yang bisa memancing datangnya investor dan berpihak pada warga," ingat Ula.

Ia menilai, saat ini Balikpapan butuh industri baru yang mampu menggerakan roda perekonomian.

"Tidak perlu investasi banyak tapi bisa melibatkan seluruh elemen. Mengoptimalkan SDM dan SDA yang sudah ada seperti menciptakan industri wisata yang bisa bersinergi dengan wilayah lain di Kaltim," paparnya.

Caleg Golkar nomor urut dua dari Dapil Balikpapan Tengah ini, berharap ke depan Balikpapan bisa memiliki regulasi-regulasi yang manfaatnya bisa lebih ril dirasakan warga.

Tetapi ia pun mengakui jika semua itu tidak bisa dilakukan secara instan. Semuanya harus bertahap. "Tidak mungkin semua masalah bisa diatasi dalam sekejap. Tapi ada masalah-masalah tertentu yang bisa diselesaikan dengan regulasi yang tepat," ujarnya.

Reporter : Dicky Sera    Editor : KLIK Group



Comments

comments


Komentar: 0