19 Februari 2019

Belum punya akun? Silahkan mendaftar

Kak Seto Nilai Sistem Pendidikan di Indonesia Gagal


Kak Seto Nilai Sistem Pendidikan di Indonesia Gagal
Psikolog Anak, Kak Seto. (Gi)

KLIKBALIKPAPAN.CO - Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, Seto Mulyadi, menilai sistem pendidikan Indonesia saat ini mengalami kegagalan.

Pria yang biasa disapa Kak Seto, itu menganalisis kegagalan pendidikan lantaran banyaknya anak yang melawan guru. Terakhir ramainya pemberitaan ihwal siswa SMP yang merokok dan di kelas dan membully gurunya sendiri.

"Kita harus berani jujur gagalnya pendidikan di Indonesia," ujar Kak Seto saat dihubungi KLIK, Selasa siang, 12/2/2019. Kegagalan pendidikan, lanjutnya, bukan saja terkait pola asuh. Tapi juga kegagalan sistem pendidikan di sekolah.

"Tentu saja ada yang salah dari pola asuh di rumah dan sistem pendidikan di sekolah," tegasnya. Saat ini, sambungnya, banyak sekali anak melawan orangtua. Para siswa melawan gurunya.

"Guru itu kan harusnya digugu dan dituru. Didengarkan dan ditiru, tapi sekarang malah dilawan. Berarti ada yang salah dari sistem dan model pengajarannya," katanya.

Kak Seto yang juga Psikolog Anak, mengingatkan pada orangtua dan guru agar menciptakan situasi ramah tamah.

Ia membeber hasil penelitian yang dilakukannya selama 10 tahun, yakni anak yang dibesarkan dengan kekerasan maka akan tumbuh sebagai pribadi yang kasar.

Anak-anak yang pola asuh di rumahnya ramah, ujarnya, belum tentu di sekolah baik-baik saja. Tergantung bagaimana lingkungan di sekolah.

"Saya banyak menemui anak yang di rumah dididik baik, tapi di sekolah kasus bulyy, kekerasan dibiarkan. Akhirnya ia ikut kasar karena terpengaruh lingkungan," ingatnya.

Anak-anak, sambung Kak Seto, adalah imitator ulung. Mereka pandai meniru apa yang dilihat di sekitarnya, di lingkungannya. Karena itu ia meminta orangtua dan sekolah untuk menciptakan suasana ramah.

"Kalau di sekolah ada kejadian bully, jangan dibiarkan. Segera ditangani agar tidak menulari siswa yang lain. Ciptakan suasana sekolah dan kelas yang ramah anak," ingatnya.

Ia mengaku mencoba mendirikan pendidikan khusus anak dengan sistem informal. Sepekan hanya tiga kali masuk sekolah. Tiap hari hanya belajar tiga jam.

"Hasilnya luar biasa. Anak-anak gembira sekali. Mereka ramah dan cepat mengikuti pelajaran," jelasnya. Sekolah yang didirikannya bernama Seto Homeschooling, yang berada di Jakarta Selatan. Model sekolahnya itu, lanjut Kak Seto, diakui Menteri Pendidikan. 

Untuk itu ia meminta agar sekolah tidak membebani anak-anak dengan tugas atau PR yang banyak. "Ciptakan suasana ramah. Anak-anak jangan dibebani PR, apalagi banyak dan sering. Kasihan mereka," tuturnya.

Diberitakan sebelumnya, kasus persekusi guru oleh siswa terjadi di SMP PGRI Wringin Anom, Kabupaten Gresik. Kasus itu akhirnya sampai ke meja polisi.

Setelah viral, polisi memanggil siswa tersebut. Siswa bersangkutan pun akhirnya menangis dan minta maaf.

Permintaan maaf disaksikan orangtua siswa, Kapolres Gresik, Kapolsek Wringinanom, DPRD Gresik, Kepala Sekolah, pihak kementrian sosial dan guru yang menjadi korban pembullyan.

"Dengan ini saya minta maaf, sekali lagi saya minta maaf atas perbuatan yang saya lakukan pada guru saya Bapak Nur Khalim," tutur pelaku pembullyan di hadapan korban dan para saksi, Minggu, 10/2/2019.

Reporter : Agung    Editor : KLIK Group



Comments

comments


Komentar: 0